Yogyapos.com (YOGYA) – Menggabungkan objek ‘Burung Hantu” dipadukan dengan ikon dunia masa kini, menciptakan representasi yang menarik dan bermakna. Burung hantu melambangkan kebijaksanaan, pengetahuan, dan misteri, sementara dunia masa kini identik dengan teknologi, konektivitas, dan perubahan cepat.
Itulah salah satu dari 54 karya perupa Supantono yang sejak 3 Agustus 2024 dipajang di salah satu ruang De Laxston Hotel Yogyakarta. Pameran tunggal bertajuk “Harmony of Life’ ini akan berlangsung hingga 3 September mendatang.

Pengembaraan #6, 65 cm x 55 cm, Mixed media on canvas, 2018 || YP-Dok Supantono
Dalam lukisan Burung Hantu itu, Supantono sengaja memainkan kombinasi dengan background elemen-elemen teknologi seperti elektronik, motherboard, lensa kamera, layar digital, angka-angka dan huruf.
Supantono rupanya terinspirasi Bill Gates, salah satu tokoh paling berpengaruh di dunia teknologi dan filantropi. Ia dikenal sebagai pendiri Microsoft, perusahaan perangkat lunak terbesar di dunia, dan melalui perannya di Microsoft, Gates telah memainkan peran kunci dalam revolusi komputer pribadi.

Sang pelukis, Supantono MSn || YP-Ist
Selain kesuksesannya di bidang teknologi, Gates juga terkenal karena kegiatan filantropinya yang luas melalui Bill dan Melinda Gates Foundation. Tanpa Microsoft tidak mungkin muncul teknologi AI (Artificial Intelligency) yang melahirkan dunia digital berupa robot kecerdasan. Dalam berbagai aspek tersebut, Bill Gates telah berperan penting dalam mendorong perkembangan teknologi AI sambil mengingatkan dunia akan pentingnya tanggung jawab etis dalam penggunaannya.
“Visinya mengenai AI tidak hanya terbatas pada peningkatan teknologi, tetapi juga pada bagaimana AI dapat digunakan untuk kebaikan sosial yang lebih luas,” ujar alumnus S1 ISI Yogyakarta dan Magister Seni ITB kepada yogyapos.com, Rabu (14/8/2024).

Salvador Dali Sang Idola, 89 x 88 cm, Acrylic on canvas, 2023 || YP-Dok Supantono
Pada lukisan ‘Burung Hantu’ ia agaknya ingin mengisyaratkan pentingnya kerjasama dan solidaritas demi kehidupan yang harmonis. Baginya, kerjasama dan solidaritas itu penting. Karenanya tidak ada tantangan yang terlalu besar jika kita hadapi bersama. Dari perubahan iklim hingga krisis kemanusiaan, kerjasama internasional dan solidaritas global adalah kunci untuk menemukan solusi yang berkelanjutan dan adil.
“Marilah kita bergandengan tangan dalam semangat kerjasama, untuk mewujudkan dunia yang lebih baik bagi semua,” ajaknya.
Di sisi lain, pelukis yang karyanya sudah mendunia ini, menyatakan pentingnya pendidikan kesadaran sebagai pondasi untuk perdamaian. Dengan mengedukasi diri kita sendiri dan generasi mendatang tentang pentingnya toleransi, keadilan, dan hak asasi manusia, kita menanam benih-benih perdamaian yang akan berbuah di masa depan.

Calon Pemimpin Bangsa, 100 cm x 100 cm, Acrylic on canvas, 2024 || YP-Dok Supantono
“Marilah kita berkomitmen untuk belajar dan mengajarkan nilai-nilai ini setiap hari,” tukasnya.
Menurutnya, perdamaian dunia dimulai dari dalam diri kita sendiri. Perlu bagi kita mencari kedamaian dalam hati kita, dengan merawat kesehatan mental dan emosional, serta dengan bermeditasi atau merenung. “Ketika kita menemukan kedamaian dalam diri sendiri, kita lebih mampu menyebarkannya di sekitar kita,” pungkasnya.
Pameran adalah manifestsi eksistensi. Bukan hanya ‘Burung Hantu’ yang ia pamerkan, tetapi sekian banyak banyak garis dan warna dengan ragam ekspresi bercorak abstrak dan dekoratif.

Dialog Dua Perempuan, 65 cm x 55 cm, mixed media on canvas, 2021 || YP-Dok Supantono
Karya-karya tersebut selalu memiliki tempat yang istimewa dengan argumentasi masing-masing sebagaimana disampaikan oleh Triyudo Purwoko, seorang peminat dan pengamat seni.
Gaya abstrak, dengan kebebasan ekspresinya, menggugah imajinasi dan interpretasi personal dari setiap penikmatnya. Di sisi lain, gaya dekoratif dengan keindahannya yang teratur simetris, menawarkan kenyamanan visual dan harmoni. Kedua gaya ini, meskipun berbeda akan tetap bertahan dan saling melengkapi dalam memperkaya khazanah seni rupa kita.

Gadis Kembang Desa, 64 cm x 54 cm, Acrylic on canvas, 2020 || YP-Dok Supantono
“Dalam pameran kali ini, Supantono telah mampu menyatukan kedua aliran tersebut dengan sangat apik, menciptakan bentuk kesatuan yang harmonis antara abstrak dan dekoratif. Karya-karyanya tidak hanya mengundang kekaguman, tetapi juga menawarkan pengalaman visual yang mendalam dan bermakna,” ujarntya.
Lebih dari itu, karya Supantono menjadi bukti nyata dari ciptaan dan capaian yang mengiring perubahan, menunjukkan bahwa dalam dunia seni, perubahan adalah sebuah kepastian. Marilah kita bersama-sama menikmati keindahan dan pesan yang disampaikan melalui karya-karya yang dipamerkan hari ini.
Walaupun samar tetapi transparan, karya lukis Supantono menyuguhkan kompleksitas alam semesta tentang flora, fauna, dan bahkan manusia sebagai makhluk sosial yang mengalir dalam siklus harmoni kehidupan. Dalam setiap goresan, kita diajak untuk merenungkan keterkaitan dan keseimbangan yang ada di dunia ini, menjadikan setiap lukisan sebagai cerminan dari kehidupan yang dinamis dan penuh makna.
“Harmony of Life” adalah tema yang tepat dalam pameran kali ini, sebuah judul yang saya yakin lahir dari perenungan yang panjang dalam pengembaraan kehidupan sang pelukis Supantono. Judul ini tentu mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang keseimbangan alam dan peran manusia di dalamnya, yang tertuang dalam setiap karya lukis yang dipamerkan. Melalui tema ini, kita diajak untuk menyelami esensi kehidupan, memahami keindahan dalam keberagaman, dan menghargai harmoni yang ada di sekitar kita.
“Abstrak” adalah batin imajinasi yang liar namun tetap tertata, sedangkan “Dekoratif” adalah visual seni yang tertata indah. “Supantono mampu menata kedua-duanya dengan sangat baik, melahirkan “Karakter” sebagai manisfestasi “Akunya”,” tegas Triyudho.(Met)

Supantono familys || YP-Ist
Sekilas tentang Pelukis:
Supantono MSn, kelahiran 18 April 1964. Tahun 1982-1985 menimba ilmu di SSRI/SMSR Jurusan Seni Lukis. Belajar melukis kepada pelukis Soeharto PR (ASRI), Supono PR (ASRI), Mahyar (ASRI), Tito Anggoro (ASRI), Affandi, dan lain-lain
Tahun 1985-1988 studi di DIII PPPG Kesenian Yogyakarta Jurusan Seni Lukis (Bekerjasama dengan ASRI/ISI Yogyakarta dengan IKIP Negeri/UNYYogyakarta). Belajar melukis kepada pelukis Suwaji (ASRI).
Tahun 1990-1992 belajar melukis kepada pelukis Jepang Prof Dr Hiroshi Fujita (Japan).
Tahun 1992-2015 menjad Anggota Sanggar Bambu di Yogyakarta, 2001-2002 S1 Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta Jurusan Pendidkan Seni Rupa/Kerajinan.
Tahun 2004-2006 menyelesaikan studi S2 (FSRD) Magister Seni di Institut Teknologi Bandung. Kini tinggal di Kersan No. 200, RT. 08, DK. II, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta-55181
Contak person: 082245391411, Email pantono474@gmail.com {}

Pameran Tunggal ‘Harmony of Liffe’ De Laxston Hotel Yogyakarta || YP-Ist
Kegiatan Pameran:
2023 Pameran Tunggal Lukisan “My Fantasy #2” di Pasar Seni Ancol, Jakarta Utara, Indonesia.
2021 Pameran Tunggal Lukisan “My Fantasy” di Hongkong Art Gallery, Hongkong.
2019 Pameran Tunggal Lukisan “The Journey #3” di Mega Bekasi Hypermall, Bekasi, Jawa Barat.
2017 Pameran Tunggal Lukisan “The Journey of Retrospection #2” di Gallery Prawirotaman Hotel Yogyakarta dibuka oleh Drs Sihono HT MSi (Ketua Persatuan Wartawan Indonesia, D.I.Yogyakarta).
2015 Pameran Tunggal Lukisan “Decora Abstract” di Rumah Budaya Tembi Yogyakarta Dibuka oleh Rudy Corens (Artis/Desainer Jerman).
2008 Pameran Tunggal Lukisan “Dunia Anak” di Childrens Hospital, Taiwan.
Pameran Tunggal Lukisan “Damai Bersama Alam” di The Hotel Melia Purosani Yogyakarta.
2005 Pameran Tunggal Lukisan “Harmonisasi Alam” di Museum Gunarsa Yogyakarta dibuka oleh Maestro Nyoman Gunarsa.
Pameran Tunggal Lukisan “Mitos Alam” Koleksi Terpilih Supantono di Sun Gallery, Taiwan.
2003 Pameran Tunggal Lukisan “Dunia Fantasi #2” di Galeri Rama-Shinta Yogyakarta.
2002 Pameran Tunggal Lukisan “Dunia Fantasi” di Tembi Rumah Budaya Yogyakarta dibuka oleh Dr Agus Burhan (Rektor ISI Yogyakarta).
2000 Pameran Tunggal Lukisan “The Journey #2” di Bentara Budaya Yogyakarta dibuka oleh Prof Dr I Made Bandem (Rektor ISI Yogyakarta).
1999 Pameran Tunggal Lukisan “Lukisanku, Perjalanan Hidupku” di Taman Budaya Surakarta.
1997 Pameran Tunggal Lukisan “Selamatkan Alamku” di Hotel Melia Purosani dibuka oleh Ibu GKR Hemas di Yogyakarta.
1996 Pameran Tunggal Lukisan “Fantasi Alam dan Satwa” di Cafe Solo Gallery Surakarta.
1995 Pameran Tunggal Lukisan “The Care of Nature” di Hotel Melia Purosani Yogyakarta.
1994 Pameran Tunggal Lukisan “The Journey” di Taman Budaya Surakarta dibuka oleh Dr Narsen Afatara (Pelukis/Pematung dan Dosen Universitas Negeri Surakarta).
Sumber : https://yogyapos.com/

